Panji Jayeng Sabrang : Melawan Kezaliman Negeri Seberang

By Bambang Udoyono

Panji Jayeng Sabrang : Melawan Kezaliman Negeri Seberang
Available for 9.99 USD

Sinopsis Panji Jayeng Sabrang


Panji Inu Kertapati alias Joko Gluduk sang pangeran negri Jenggala suatu malam bermimpi. Dalam impiannya dia sedang menikmati malam purnama di alun alun Jenggala. Ketika dia menatap keindahan purnama yang mempesona mendadak bulan purnama itu berubah warnanya menjadi merah darah. Beberapa saat kemudian bulan purnama itu kembali ke warna aslinya.

Malam berikutnya Panji sedang bersantai dengan istrinya dan anak buahnya di pendopo  istana Jenggala ketika terdengar suara bentakan dan jeritan. Beberapa orang berbaju hitam menyerang ke istana. Panji dan istrinya yang sedang memakai pakaian sederhana dilewati para penyerang. Mereka mungkin tidak mengira dia pangeran karena berpakaian sederhana. Para penyerang masuk ke dalam istana dan membunuh anak buahnya yang sedang membersihkan dan menyiapkan baju kebesarannya yang akan dipakai hari berikutnya dalam acara penobatan sebagai raja baru. Anak buahnya itulah yang agaknya dikira sebagai rajanya karena sedang membersihkan dan bahkan iseng memakai pakaian raja. Bersama para prajuritnya para penyerang dikepung dan akhirnya bisa dibunuh semua.

Dalam bab bab berikutnya dipaparkan latar belakang peristiwa di atas. Pada awalnya adalah kerajaan Kahuripan yang dipimpin oleh Erlangga. Setelah sepuh dia memutuskan lengser keprabon. Saat itu Kahuripan sedang menghadapi masalah pelik. Kerajaan membutuhkan seorang raja yang cakap dan mampu mengatasi masalah. Namun anak pertamanya perempuan sehingga tidak mungkin jadi raja. Anak kedua laki laki tapi kalah cerdas dengan anak laki laki terakhirnya. Maka diputuskan kerajaan dibagi dua. Sebelah utara adalah Jenggala akan dipimpin oleh anak ketiganya. Wilayahnya kecil namun memiliki pelabuhan Tuban dan Ujung Galuh selain Pasuruan. Anak kedua memimpin Kediri yang memiliki wilayah lebih luas.

Hubungan kedua negara baik dan keduanya menjadi maju. Seperti diharapkan ayahnya, Jenggala lebih maju dan menjadi pemimpin bagi Kediri. Setelah kedua raja memiliki anak yang sudah dewasa mereka merencanakan berbesanan. Prabu Lembu Amiluhur di Jenggala memiliki anak laki laki bernama Panji Inu Kertapati alias Joko Gluduk. Sedangkan Prabu lembu Wijaya memiliki anak perempuan cantik jelita bernama Candra Kirana.  Suatu hari raja Jenggala melamar ke Kediri dan diterima. 

Masalah timbul ketika Panji setelah melamar memutuskan untuk berguru ke luar istana. Pertama dia berguru di padepokan gunung Wilis kepada Empu Wilis selama tiga tahun. Setelah lulus dari padepokan Wilis dia tidak pulang tapi berguru lagi ke Empu Liyangan di lereng gunung Sindoro tanpa memberitahu kepada keluarga raja Kediri. Maka keluarga raja Kediri merasa tersinggung dan sakit hati. Mereka menganggap Panji sedang mencari alasan untuk membatalkan pernikahan, mungkin karena memiliki wanita lain. Karena itu hubungan kedua kerajaan menjadi dingin.

Sementara itu Candra Kirana yang cantik jelita membuat banyak pangeran dan raja di Nuswantara bahkan di manca negara jatuh cinta lalu melamar. Namun semua lamaran itu ditolak dengan halus. Sampai akhirnya datang raja Klana Sabrang dari manca negara, yaitu dari negri Sabrang Angin. Dia datang dengan membawa tentara banyak. Sambil melamar dia juga secara tersamar mengancam Kediri. Keluarga Candra Kirana menentukan syarat dia harus masuk Islam dulu. Klana Sabrang bersedia lalu dia menjadi mualaf. Karena itu lamaran diterima dan mereka lantas menikah. Setelah menikah Candra Kirana diboyong ke Sabrang Angin. Ternyata Klana Sabrang kembali ke watak aslinya. Dia kembali menjadi pemuja bulan dan memperlakukan Candra Kirana dengan buruk.  Janji untuk menjadikan Candra Kirana sebagai permaisuri diingkari. Dia hanya dijadikan selir biasa, bahkan ditempatkan di satu rumah dengan banyak selir lainnya.

Panji marah sekali ketika diberitahu tentang pernikahan Candra Kirana dengan Klana Sabrang. Dia merasa dikhianati. Maka dia ingin membalas dendam kepada Klana Sabrang. 

Candra Kirana yang merasa ditipu juga dendam dengan Klana Sabrang. Dia ingin lari pulang. Maka dia menulis surat kepada ayahnya dan kepada Panji untuk meminta bantuan lari dari Klana Sabrang.

Panji lantas menyiapkan upaya pembebasan Candra Kirana dengan dibantu oleh keluarganya, keluarga Kediri dan gurunya, Empu Liyangan. Mereka juga melakukan persiapan apabila Klana Sabrang membalas dendam menyerang Jawa. Setelah persiapan matang Panji dan pasukannya menuju Sabrang Angin dengan naik kapal. Mereka bisa kontak dengan Candra Kirana. Pada suatu malam ketika Klana Sabrang sedang pesta besar dengan semua petingginya dan kewaspadaan longgar karena pada mabok Panji dan pasukannya berhasil membawa lari Candra Kirana dengan kuda disambung dengan kapal kembali ke Jawa.

Ketika Panji sedang pergi ke Sabrang Angin, ada keributan di Jawa. Seorang anggota pasukan Jenggala terbunuh. Kecurigaan mengarah ke tentara asing. Diperkirankan Klana Sabrang sudah mengirim sejumlah kecil pasukan untuk membunuh raja dan keluarganya. Senapati Jenggala lantas memburu mereka. Telik sandi disebar. Sebuah siasat dirancang untuk memancing pasukan asing keluar. Seorang saudara sepupu Panji bernama Panji Anom disuruh berperan menjadi Panji karena wajahnya mirip. Lantas diumumkan ke masyarakat bahwa Panji akan datang ke sebuah acara pernikahan anak seorang lurah di desa Jambe Wangi. Pada harinya Panji Anom berpura pura menjadi Panji memakai pakaian kebesaran pangeran datang ke rumah lurah sebuah desa. 

Mendengar pengumuman tentang acara Panji itu, pasukan Klana Sabrang menyusupkan dua anggotanya menjadi juru masak yang akan memasak khusus buat Panji. Tujuannya untuk meracuni Panji. Tentara Jenggala mengetahui rencana itu lalu juru masak asing itu digerebek dan ditangkap lalu dikorek informasinya. Dalam perjalanan pulang dari upacara pernikahan di desa Jambe Wangi rombongan panji diserang tentara asing. Terjadi pertempuran seru dan tentara asing bisa dipukul mundur.

Perburuan pasukan asing diteruskan. Operasi telik sandi digalakkan. Akhirnya didapat keterangan  mengenai kebiasaan mereka memuja bulan di saat bulan purnama. Maka telik sandi disebar di tempat tempat yang diperkirakan akan dipakai untuk memuja bulan. Di sebuah tempat apa yang mereka cari didapat. Serangan jebakan disiapkan. Ternyata pasukan asing juga waspada. Mereka juga punya telik sandi yang dibantu warga Jenggala yang berkhianat. Tentara pemburu dari Jenggala terjebak tentara asing. Untung bala bantuan datang. Terjadi pertempuran seru untuk menghancurkan pasukan asing. Akhirnya pasukan asing terbunuh semua.

Setelah Panji dan Candra Kirana sampai di Jawa persiapan menghadapi serangan Klana Sabrang dilanjutkan. Persenjataan dilengkapi. Tentara dilatih taktik strategi khusus untuk menghadapi pasukan besar bersenjata lengkap dan berbaju besi. Anggota pasukan baru direkrut. Warga kawasan utara terutama wanita dan anak anak diungsikan ke daerah selatan yang dianggap aman dan dijaga pasukan pendukung. Sebelum perang Panji dinikahkan dengan Candra Kirana secara sederhana.

Raja Klana Sabrang sangat marah mengetahui lolosnya Candra Kirana. Dia memutuskan menyerang Jawa dengan puluhan ribu prajurit. Pasukannya dibagi tiga. Satu bagian mendarat di Ujung Galuh yang dia pimpin sendiri. Bagian kedua mendarat di Tuban dan ketiga di Pasuruan. Pasukan yang mendarat di Tuban dan Ujung Galuh mendapat perlawanan seru. Tapi yang mendarat di Pasuruan tidak mendapat perlawanan. Kepalanya menyogok kepala prajurit pemimpin wilayah Pasuruan sehingga mereka dibolehkan mendarat. 

Pasukan asing yang mendarat di Pasuruan seharusnya menjepit Jenggala dari timur tapi kepalanya berubah pikiran lalu menyerang istana Kediri. Ini karena dia mengejar pasukan Jawa yang dicurigai lari ke Kediri. Pasukan Kediri sudah diperbantukan ke Jenggala sehingga pertahanannya rapuh.  Mereka tidak megira bakal diserang tentara asing. Kama dalam serangan itu Kediri dihancurkan dan raja Kediri meninggal. Untungnya permaisuri yaitu ibu Candra Kirana masih sempat diungsikan ke Candra Dimuka.

Di Jenggala pasukan pimpinan Klana Sabrang mendapat perlawanan seru dari tentara gabungan Jenggala dan Kediri. Pasukan gabungan meskipun dengan susah payah berhasil mengimbangi pasukan musuh yang memiiki perlegkapan dan senjata lebih baik. Pasukan asing sudah memakai baju besi sedangkan pasukan gabungan belum memilikinya. Maka korban banyak sekali di pihak pasukan gabungan. Untuk mengantisipasi raja Jenggala dan keluarganya sudah diungsikan ke pedalaman di padepokan Candra Dimuka di luar kota di daerah bergunung dan berhutan jati. Malam harinya senapati Rananggana memutuskan meninggalkan ibukota untuk melanjutkan perlawanan dengan siasat pukul dan lari.

Sementara itu senapati Rananggana mendapat laporan bahwa Tumenggung Gombal Gambul yang ditugasi menjaga Pasuruan berkhianat dengan menerima sogokan sehingga pasukan asing mendarat tanpa perlawanan. Senapati Rananggana menugasi senapati Bondan Prawira untuk menghukum mati Tumenggung Gombal Gambul dan mengambil alih kendalai pasukan Pasuruan. Tugas ini berhasil duilaksanakan dengan baik.

Pasukan yang menyerang Kediri lantas bergabung dengan rajanya di Jenggala. Mereka lalu memburu pasukan gabungan dan menemukan padepokan Candra Dimuka. Tapi mereka menemukan banyak kendala karena medan sulit, banyak jebakan, cuaca panas, dan perlawanan pukul dan lari. Namun dalam bentrokan pasukan asing masih menang dan bahkan senapati Bondan yang mengepalai pasukan pertahanan ibu kota berhasil ditewaskan.

Pimpinan Jenggala lalu mencari cara lain memenangi perang. Diputuskan untuk membunuh Klana Sabrang yang menduduki istana Jenggala. Diharapkan kalau rajanya mati maka pasukannya akan kacau dan bisa dikalahkan. Maka Panji dan limabelas orang anak buahnya dibantu Empu Liyangan berangkat diam diam ke ibukota Jenggala. Empu Liyangan menyamar menjadi juru masak dan diterima bekerja di istana karena dia bisa memasak makanan Sabrang Angin. Di suatu malam dia membunuh para pengawal raja Klana Sabrang dan Panji dengan pasukan kecilnya masuk ke istana dan berhasil membunuh Klana Sabrang dalam sebuah pertarungan yang sengit.

Kematian Klana Sabrang membuat dua orang pimpinan pasukannya, yaitu Banaspati dan Albusai yang selama ini bersaing, menjadi bertengkar memperebutkan kepemimpinan. Pertengkaran memanas menjadi perkelahian keduanya dan diikuti tawuran massal dua kubu pasukan. Dalam keadaan kacau balau, terpecah belah dan sudah lemah maka serangan pasukan gabungan Jenggala dan Kediri bisa menghancurkan pasukan asing. Kedua pimpinan pasukan itu bahkan tewas. Mereka dilucuti lantas dipaksa pulang melalui pelabuhan Tuban, Ujung Galuh dan Pasuruan.

Panji mengawal pemulangan lewat Tuban. Candra Kirana dikawal pasukan di bawah pimpinan sepupunya Panji Anom yang diangkat menjadi kepala pasukan penjaga ibukota menggantikan senapati Bondan. Ternyata Panji Anom berkhianat. Setelah sampai di Jenggala di alun alun di depan rakyat dia mengatakan perang sudah berakhir karena jasanya dan menyatakan dirinya sebagai raja baru. Hal ini karena selama ini dia sakit hati. Dia merasa menjadi umpan pasukan asing ketika disuruh menyamar menjadi Panji. Kemudian dia merasa tidak diberi kesempatan naik. Selain itu dia diam diam mencintai Candra Kirana. Maka secara diam diam dia menghimpun kekuatan di kalangan prajurit Jenggala. Kepala pasukan pengawal raja adalah pengikutnya. Raja yang masih di Candra Dimuka menunggu istana dan ibukota dibenahi sejatinya berada dalam tahanan kepala pasukan pengawalnya.

Senapati Rananggana dengan sejumlah kecil pengawal mampu menaklukkan kepala pasukan pengawal dengan sebuah siasat cerdik tanpa menumpahkan darah. Sedangkan Panji membawa pasukan besar mengepung istana Jenggala. Namun Panji tidak mampu berbuat apapun karena Candra Kirana disandera oleh Panji Anom di dalam istana.

Panji Anom yang menginginkan Candra Kirana menjadi istrinya meminta dipijat oleh Candra Kirana karena kelelahan. Maka terbukalah kesempatan buat Candra Kirana menyerang Panji Anom dengan ilmu samber nyawa, yaitu serangan tenaga dalam di titik mematikan di punggung dan dada. Akibatnya Panji Anom sekarat. Candra Kirana cepat lari keluar istana memberitahu Panji yang mengepung. Istana bisa direbut kembali. Panji yang tidak tega dengan sepupunya lantas menyembuhkan dengan ilmu samber nyawa yang diajarkan oleh Empu Liyangan kepada mereka berdua ketika menyiapkan diri menyambut serangan Klana Sabrang. Panji Anom diselamatkan dari kematian tapi dia ditahan.

Setelah perang besar dimenangi dan pembrontakan Panji Anom diatasi maka akan diadakan pesta untuk menghibur rakyat, merayakan kemenangan, dan merayakan pernikahan Panji. Panji akan menggelar pertunjukan wayang. Ketika sedang santai di malam hari terjadilah serangan oleh sisa pasukan pembunuh dari Sabrang Angin yang dipaparkan di bab pembuka. Pasukan musuh sempat membunuh beberapa orang tapi akhirnya bisa ditewaskan semua setelah dikepung sejak malam sampai sore.

Di akhir cerita Panji dinobatkan menjadi raja baru dan diberi julukan Panji Jayeng Sabrang yang artinya Panji berjaya di negri seberang.  

*

 

 







Book Details

Buy Now (9.99 USD)